Pelatihan Sikap Mental

Pelatihan Sikap Mental
Pelatihan Sikap Mental di Perusahaan

Pendiri Suarahati Kudus

Minggu, 22 September 2013

Matius 21 : 28-31a



MENDENGAR PERCAYA LALU BERBUATLAH

          “Berbahagialah orang yang mendengarkan Firman Tuhan serta memeliharanya”. Kalimat ini selalu kita dengar dalam ibadah minggu di Gereja. Semua jemaat tanpa kecuali mendengar perkataan ini dari liturgis, tentunya ini berkaitan dengan makna iman percaya yaitu “mendengar” dan “menjalankan”. Bukan hanya mendengar tetapi tidak menjalankan. Demikian pula ketika Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang dua orang anak laki- laki yang disuruh oleh orang tuanya melakukan sesuatu pekerjaan di kebun anggur, apa yang terjadi. Ternyata anak yang sulung menjawab ya tetapi tidak melakukannya. Sedangkan anak yang kedua menjawab aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal dan lalu pergi juga. Siapakah diantara mereka yang melakukan kehendak bapaknya ???                 
         
          Sikap seperti si anak sulung seringkali dilakukan orang bahkan dengan lantangnya dia menjawab : “ya saya siap, Tuhan untuk melaksanakannya, tetapi apa yang terjadi dalam kenyataannya. Sikapnya tidak sesuai dengan ucapan dan tidak menjalankannya. Ada juga orang yang menjawab “tidak” tetapi karena dia menyesal dan bertobat maka ia berbalik menjalankan perintah Tuhan. Inilah yang kerab terjadi dalam kehidupan kita, percaya hanya di mulut, mengatakan ya hanya di mulut tetapi tidak menjalankannya. Padahal kita harus satu sikap antara ucapan dengan perbuatan,sehingga menunjukkan kualitas orang percaya.

Itulah sebabnya dikatakan dalam nas ini bahwa sesungguhnya pemungut – pemungut cukai dan perempuan - perempuan sundal akan mendahului kamu nasuk ke dalam kerajaan Allah. Sebab Yohannes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut – pemungut cukai dan perempuan – perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan tidak juga percaya kepadanya (ayat 31-32).

Menyesal dan mengakui kesalahan lebih berharga daripada merasa benar dalam berbuat dan tidak pernah mengakui kesalahan,Tuhan bukan menghendaki kematian orang fasik tetapi pertobatan yang diharapkan. Percayalah Tuhan memberkati. Amin (KAP)    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar