Pelatihan Sikap Mental

Pelatihan Sikap Mental
Pelatihan Sikap Mental di Perusahaan

Pendiri Suarahati Kudus
Tampilkan postingan dengan label Renungan 2010. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan 2010. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Januari 2013

Matius 26 : 6-13




PERSEMBAHKAN YANG TERBAIK DALAM HIDUPMU

          Ketika seorang perempuan datang kepada Yesus dengan membawa sebuah buli – buli pualam yang berisi minyak wangi yang mahal dan di curahkannya ke atas kepala Yesus yang sedang duduk makan, beraksi pula murid – murid Yesus dan berkata “untuk apa pemborosan ini” sebab minyak itu mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang miskin (ayat 7-9). Murid Yesus mengandalkan pikirian dalam menyikapi perbuatan perempuan itu, sehingga mau mengatakan apa yang dilakukannya perempuan itu adalah sia – sia, tidak bernilai dan tidak bermanfaat. Itulah jalan pikiran manusia yang sering memperhitungan untung dan rugi dalam bertindak.

          Persembahan seorang perempuan itu adalah yang terbaik disampaikan kepada Yesus, dia tidak pernah berpikir kerugian atas perbuatannya, semua itu dilakukan dengan tulus ikhlas, tetapi justru orang lain yang tidak mempersembahkan merasa rugi. Peristiwa ini sungguh dapat menjadi pelajaran berharga buat kita. Jangan pernah kita berhitung untung – rugi dalam Tuhan, tidak ada ruginya kalau kita melakukan perbuatan yang menyenangkan hati Tuhan. Bahkan sebaliknya karunia berkat yang berlimpah yang kita dapatkan dari Tuhan.

           Perempuan itu telah membuka mata hati semua orang bahwa apa yang ia lakukan merupakan cerminan sikapnya terhadap Tuhan Yesus, dia yakin dan percaya akan Tuhan Yesus, sehingga tanpa ragu dan bimbang dia melakukannya dihadapan para murid – murid Yesus. Dia sudah melakukan yang terbaik untuk Tuhan. Apakah kita bisa seperti perempuan itu ? hal inilah yang perlu kita sikapi, persembahkan hidup kita kepada Tuhan, karena itulah yang terbaik saat ini, bukan harta duniawi yang diperlukan oleh Tuhan, sebab kalau kita memberikan persembahan bukan berarti karena Tuhan kekurangan. Amin (KAP)

Kisah Para Rasul 23 : 1 – 10



 
HIDUPLAH DENGAN HATI NURANI YANG MURNI DI HADAPAN TUHAN

          Ketika rasul Paulus dibawa dari penjara oleh kepala pasukan untuk  dihadapkan kepada Mahkamah Agama , maka berkatalah Paulus “Hai saudara-sudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dan dengan hati murni dihadapan Allah (ayat 1), tetapi Iman Besar Ananias menyuruh orang – orang yang berdiri dekat Paulus menampar mulut paulus (ayat 2). Diapun membalas dan berkata kepadanya “Allah akan menampar engkau, hai tembok yang dikapur putih-putuih! Engkau duduk di sini untuk menghakimi aku menurut hukum Taurat, namun engkau melanggar hukum Taurat oleh perintahmu untuk menampar aku (ayat 3)”.

          Peristiwa yang dialami Paulus sungguh tragis, orang benar seperti Paulus dipenjara dan di perlakukan dengan tidak adil oleh Mahkaman Agama bahkan disuruh  Ananias untuk ditampar orang banyak yang ada disekiar di lokasi itu. Kalau kita berada diantara mereka apakah kita mau melakukan perintah Ananias untuk menampar ?. Setiap orang pasti pernah berada dalam keadaan sulit, lalu biasanya apa yang hendak kita lakukan jika hal itu terjadi dihadapan kita.

          Paulus dalam menghadapi masalah selalu berani berkata dengan kebenaran firman Allah. Ia tidak khawatir tentang dirinya, bahkan dalam penjara ia juga memberikan kesaksian dan mengatakan bahwa ia dipenjara karena Kristus. Bahkan bertambah berani berkata – kata tentang firman Allah dengan tidak takut (Filipi 1 ayat 13-14). Teladan ini harusnya bisa kita aplikasikan dalam kehidupan, jangan pernah kita ragu dan bimbang akan kuasa Tuhan, jangan kita berprasangka buruk setiap apa yang kita alami. Bisa saja kita menghadapi hal – hal pahit, terhimpit, terjepit tetapi semuanya harus dihadapi positif, yakin dan percaya bahwa Tuhan selalu beserta kita. Hiduplah dengan hati nurani di dalam Tuhan. Amin (KAP)

        

Jumat, 11 Mei 2012

Kolose 3 : 23 - 25



BERBUATLAH DENGAN SEGENAP HATIMU
 MAKA 
TUHAN AKAN MEMBERIKAN UPAH

Dalam hukum positif bahwa suatu perkara dapat dihukum adalah jika sudah dimulainya suatu perbuatan, misalnya seorang pencuri sepeda sudah dikategorikan sebagai pencuri apabila perbuatannya sudah dimulai dengan bergeraknya sepeda dari tempat asalnya berpindah ke tempat lain. Suatu perbuatan pasti menimbulkan akibatnya. Jika seseorang melakukan perbuatan negatif maka akibatnya juga negatif sedangkan jika melakukan perbuatan positif maka akibatnya juga positif. Dalam nas ini kita diminta untuk melakukan setiap perbuatan dengan segenap hati yang dilakukan untuk Tuhan bukan untuk manusia (ayat 23). Dengan perkataan lain ini adalah perbuatan positif, artinya apa pun perbuatan kita harus dilakukan yang berkenan dihadapan Tuhan.

Kalau kita mau mengetahui lebih dalam lagi atas akibat perbuatan yang di lakukan dengan sepenuh hati maka kita akan mendapatkan upahnya dari Tuhan, bukan dari manusia (ayat 24). Bagaimana  Bentuk upahnya tidak diperinci oleh nas ini, tetapi dapat diartikan bahwa bukan semata – mata materi kebutuhan jasmani tetapi lebih dari daripada itu, karunia berkat yang berkelimpahan dari Tuhan. Hak mutlak Tuhan untuk memberikan apa yang dibutuhkan oleh kita bukan apa yang kita minta bahkan upah sorgawi yang kita dapatkan dari Tuhan.

Tuhan tidak hanya memberikan upah tetapi juga memberikan hukuman kepada barangsiapa berbuat kesalahan dan dia akan menanggung kesalahan itu dengan segala akibatnya. Hal ini ditegaskan dalam ayat (25) tanpa memandang siapapun dia, tidak ada perlakuan khusus atau istimewah seperti apa yang dilakukan oleh manusia cendrung pilih kasih, membedakan status, tidak bersikap adil dalam menyikapi kesalahan orang lain. 
 

Untuk itu perlu kiranya kita memperbaiki diri dengan bercermin pada nas ini, tidak ada perbuatan yang tidak beresiko, berbuatlah positif. Perbuatan kita harus dibawa pengendalian diri dan menjadi pedoman kita untuk selalu ingat akan firman Tuhan. Kita harus bersabar dan harus meneguhkan hati karena kedatangan Tuhan sudah dekat (1 Petrus 5 ayat 8). Amin (KAP)


Selasa, 12 Juli 2011

Mateus 7 : 13 - 21

AWAS PENGAJARAN SESAT

Waspadalah terhadap nabi – nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas (ayat 15). Nas ini sudah di tulis jauh sebelum kemajuan tehnologi. Bagaimana dengan kondisi sekarang ? tentunya menjadi pertanyaan yang penting. Tidak sedikit tumbuh aliran – aliran yang membawa misi dan pengajaran masing – masing, bahkan sampai ada yang dilayani berlebihan oleh aliran tersebut demi untuk mendapatkan pengikut. Kalau saja tidak ada pengikutnya tentu aliran itu akan hilang di telan masa. Kenyataan tidak sedikit yang berkembang, artinya dapat dipastikan bahwa aliran tersebut mempunyai pengikutnya.

Untuk mengetahuinya adalah dengan melihat buahnya, dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri (ayat 16), setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik (ayat 17). Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik (ayat 18). Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan di buang ke dalam api (ayat 19). Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka (ayat 20).

Nas ini sudah memberikan informasi yang jelas pada kita bahwa pengajaran sesat akan hadir di tengah – tengah dunia ini dan kita juga telah diberikan keterangan cirinya bahkan hasilnya bagaimana juga dijelaskan. Sungguh memprihatinkan jika ada diantara kita yang masih juga mau sebagai pengikutnya, akibatnya dia akan di buang ke dalam api menjadi tidak berguna. Lebih tegas Firman Tuhan mengatakan bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan ! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga (ayat 21).

Untuk itu selalu kita waspada bukan untuk diri sendiri saja bukan pula hanya untuk anak – anak tetapi untuk semua orang percaya jangan tergoyahkan iman, jangan menggadaikan iman hanya karena dunia. Jadi sebelum Tuhan mengatakan kepada kita “Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan” (ayat 23). Kiranya Tuhan selalu melindungi kita. Amin (KAP)

2 Kolose 3 : 12-17

 
MENJADI PILIHAN ALLAH


Untuk menjadi manusia pilihan Allah adalah harus mampu melakukan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (ayat 12). Tentunya untuk melakukan ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, banyak tantangan yang dihadapi. Tidak sedikit yang gagal dan tidak sedikit pula yang mampu melakukannya. Apalagi di jaman tehnologi sekarang serba instant, semuanya dipermudah sampai dengan urusan ibadah juga direkayasa supaya gampang dan di gemari oleh orang banyak, bahkan yang lebih parahnya lagi sampai adanya bisnis rohani. Pengendalian diri sangat penting diperhatikan. Kita harus sabar terhadap sesama dan mengampuni orang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kita (ayat 13). Dan di atas semua itu kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (ayat 14).

Sebagai aplikasi dalam kehidupan tentunya ada beberapa hal perlu kita perhatikan yaitu : 1.) Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam setiap langkah kita, karena untuk itulah kita telah dipanggil menjadi satu tubuh 2.) Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya, sehingga kita dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji – pujian dan nyanyian rohani. 3.) dan segala sesuatu yang kita lakukan dengan perkataan atau perbuatan semuanya harus dilakukan dalam nama Tuhan Yesus, sambil selalu mengucap syukur kepada Allah di dalam hati kita (ayat 15 – 17).  


Berdasarkan nats ini untuk menjadi manusia baru pilihan Allah maka kita harus mematikan segala sesuatu yang duniawi seperti percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan keserakahan yang akan mendatangkan murka Allah. Buanglah semuanyanya yaitu marah, geram, kejahatan, ftnah dan kata – kata kotor yang keluar dari mulut kita. Dengan demikian manusia lama telah kita tinggalkan dan kita terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut Firman Allah. Amin (KAP)



Senin, 16 Mei 2011

Amos 8 : 11 – 12

LAPAR dan HAUS Akan FIRMAN TUHAN


Lapar dan haus merupakan sesuatu kondisi yang selalu terjadi dalam kebutuhan tubuh jasmani kita manusia, tubuh akan pulih kembali kuat setelah kita makan dan minum sesuai dengan porsinya. Ini dilakukan berulang – ulang setiap hari sampai dengan akhir hidup kita. Tubuh juga bisa sakit jika tidak makan dan minum. Begitu pentingnya masalah ini dalam kehidupan, tidak ada yang bisa hidup tanpa makan dan minum. Disamping kebutuhan Jasmani ternyata kita juga memerlukan kebutuhan rohani yaitu Firman Tuhan supaya dalam kehidupan adanya keseimbangan keduanya, yaitu untuk melakukan yang terbaik buat Tuhan dan untuk keselamatan yang kekal buat diri kita.   

Firman Tuhan dapat kita temukan dalam alkitab, penginjil dan pengkotbah di gereja, dengan mudah kita dapatkan dan yang terpenting adalah kesadaran kita akan mendengarkan dan melaksanakan firman Tuhan, karena iman tumbuh dari pendengaran dan iman yag teguh datang dari penderitaan. Jadi memang firman Tuhan itu merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap manusia. Bagaimana halnya jika mengalami kelaparan yaitu lapar akan firman Tuhan. Mungkin kita akan mengatakan tidak mengapa kalau lapar akan firman Tuhan, yang penting adalah kebutuhan fisik tubuh.   

Sesungguhnya, waktu akan datang,” demikianlah Firman Tuhan Allah, “Aku akan mengirimkan kelaparan ke negeri ini, bukan kelaparan akan makanan dan bukan kehausan akan air. Melainkan akan mendengarkan Firman Tuhan (ayat 11). Mereka akan akan mengembara dari laut ke laut dan menjelajah dari utara ke timur untuk mencari firman Tuhan tetapi tidak mendapatkannya (ayat 12). Tentu makna dari nas ini adalah orang membutuhkan firman Tuhan tetapi tidak menemukannya, bahkan sampai mencari ke penjuru dunia namun tidak didapatkan. Jadi harus bagaimana mengatasi kelaparan akan firman Tuhan ? tentunya adalah mari kita perlengkapi hidup kita akan firman Tuhan, supaya kita sudah siap menghadapi kelaparan jika melanda negeri ini, kapanpun itu terjadi. Kiranya Tuhan memberkati hidup kita. Amin(KAP)

Kisah Rasul 8 : 14 - 25

ROH KUDUS TAK DAPAT DIBELI

Ketika rasul – rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima Firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang – orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorangpun diantara mereka, karena mereka di baptis hanya dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus (ayat 14-17).

Simon melihat hal itu, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul – rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka, serta berkata : “Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus.” Sungguh tindakan yang tidak terpuji yang dilakukan Simon, dia mengandalkan uangnya dan berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan dengan memberikan sesuatu imbalan. Sehingga Petrus dengan tegas berkata “ Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang. Tidak ada bagian atas hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Allah. Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya ia mengampuni niat hatimu ini; sebab kulihat, hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan” (ayat 18-23).

Atas peringatan Petrus itu, Simon takut akan terjadi hal yang tidak baik terhadapnya sehingga ia berkata “Hendaklah kamu berdoa untuk aku kepada Tuhan, supaya kepadaku jangan kiranya terjadi segala apa yang telah kamu katakan itu” Sikap Simon kelihatan menyesal tetapi tidak tulus seharusnya dia sendiri yang langsung memohon ampun kepada Tuhan supaya dosa yang telah dia lakukan diampuni oleh Tuhan. Demikian juga dengan kita, mohon lah ampun kepada Tuhan jika kita telah berdosa, terlebih mengandalkan uang terhadap sesuatu yang kita inginkan, ingatlah bahwa uang tidak dapat membeli Roh Kudus. Amin (KAP)