Pelatihan Sikap Mental

Pelatihan Sikap Mental
Pelatihan Sikap Mental di Perusahaan

Pendiri Suarahati Kudus

Minggu, 22 September 2013

2 Korintus 4 : 16-18



JANGAN TAWAR HATI


Dalam hidup manusia banyak yang tidak kita mengerti rahasia Allah begitu mengagumkan dan melampuai akal pikiran manusia. Kelemahan fisik seperti penderitaan sakit - penyakit terkadang membuat lemah kualitas iman bahkan lebih parah lagi meninggalkan iman percayanya dengan menyembah illah lain demi kesembuhan bahkan berupaya berobat sampai ke luar negeri dengan mengeluarkan biaya yang besar, padahal; semuanya itu adalah tergantung bagaimana kehendak Tuhan, tidak ada seorang manusiapun yang dapat memastikan kesembuhan atas kemampuan sendiri. Bahkan dokter ahli selalu mengatakan “mari kita serahkan kepada Tuhan” karena dia sadar bahwa kemampuannya terbatas. Jadi apapun yang kita lakukan hanya sebatas pengharapan. Sungguh menyedihkan jika hal itu terjadi dalam hidup kita sebab kita tidak perlu tawar hati meskipun manusia lahiriah kita  semakin merosot, namun manusia batiniah kita diperbaharui dari hari ke sehari (ayat 16). Dalam nas ini memunjukkan bahwa ada 2 hal yang berbeda  dalam kehidupan kita yaitu lahiriah yang semakin lama semakin tua dan fisik yang merosot seharusnya tidak di ikuti dengan merosotnya kualitas iman kita karena  batiniah diperbaharui setiap hari.

Penderitaan yang kita alami sebesar apapun yang kita rasakan adalah termasuk ringan jika dibandingkan dengan mengerjakan kemulian kekal yang melebihi segala-galanya (ayat 17). Berbahagialah orang yang menderita karena memjalankan Firman Tuhan. Lebih tegas lagi dkatakan bahwa “sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat bak dank arena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah ((1 Petrus 2 : 20)

Seharusnya kita tidak memperhatikan yang kelihatan melainkan yang tidak kelihatan karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (ayat 18). Mengapa ? sebab jika rumah kita di bumi di bongkar, maka Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di surga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh manusia. Jadi selayaknya kita tidak perlu takut, bimbang, khawatir terhadap apapun yang terjadi dalam kehidupan yang sementara ini, kita yakini bahwa Tuhan pasti menyediakan tempat yang indah di surga. Amin (KAP)


1 Timotius 5 : 5-8





          SEORANG JANDA BERHARAPLAH HANYA KEPADA ALLAH  


          Sedangkan seorang janda yang benar – benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam (ayat 5). Kutipan ayat dalam nas hari ini memang sengaja dituliskan supaya kita dapat membacanya langsung redaksi kalimatnya. Ternyata Tuhan memberkati seorang janda walau apapun latar belakangnya. Bisa saja seorang janda adalah sebagai ibu rumah tangga yang tidak bekerja tetapi tumpuan hidupnya hanya kepada suami, tetapi setelah suaminya dipanggil Tuhan, apa yang terjadi selanjutnya bagi keluarga tersebut. Ternyata kasih Tuhan luar biasa ; mereka tetap dipelihara oleh Tuhan dan bisa terpenuhi kebutuhannya. Tidak bisa kita membuat rumusan matematikanya, darimana jalannya, mengapa bisa demikian dan banyak perrtanyaan lainnya yang timbul. Karena memang karunia dan berkat Tuhan tidak dapat diukur oleh apapun di dunia ini.

          Kata kunci pertolongan Tuhan terhadap seorang janda dalam nas ini adalah : 1). Dia harus menaruh harapan kepada Allah. 2). Dia harus tekun dalam permohonannya. 3). Dia berdoa siang dan malam. Tetapi Tuhan juga mengingatkan dengan tegas kepada seorang janda untuk tidak hidup mewah dan berlebih – lebihan karena jika itu dilakukannya maka ia sama dengan mati walaupun ia masih hidup (ayat 6). Peringatan ini harus di indahkan, termasuk janda tersebut  hidup harus tidak bercela (ayat 7). Memang tantangan luar biasa bagi para janda tidak mudah untuk menjalankannya, tetapi pasti bisa karena Tuhan tahu manusia mampu melakukan perintahNya.

          Marilah kita menghormati janda yang benar – benar janda (ayat 3). Jika kita mempunyai anggota keluarga yang janda, hendaklah kita memmbantunya sehingga dia jangan menjadi beban jemaat. Dengan demikian jemaat dapat membantu mereka yang benar – benar janda (ayat 16). Kasih Tuhan selalu melindungi. Amin (KAP)   

1 Timotius 5 : 1-4





          TEGORLAH  SAUDARA SEIMAN DENGAN KEMURNIAN   

         
          Dalam hidup kita tentunya tidak lepas dari hubungan interaksi dengan orang – orang yang ada di sekitar kita, baik itu orang tua, saudara maupun para sahabat. Hubungan baik akan tercipta jika semua pihak bisa saling menghargai dan bisa menempatkan posisinya. Perselisihan akan timbul jika tidak mau saling mengerti satu sama lain, bahkan tidak jarang menjadi perkara bahkan sampai ke pengadilan. Kalau demikian tentunya tidak akan ada perdamaian, apalagi bagi yang dikalahkan dalam putusan pengadilan, yang kalah akan berusaha naik banding demikian seterusnya. Untuk itu dalam nas ini Tuhan mengajarkan kita untuk bersikap dan bertingkah laku, bagaimana yang harus dilakukan ? Janganlah engkau keras terhadap orang yang tua, melainkan tegorlah dia sebagai bapa. Tegorlah orang – orang muda sebagai saudaramu, perempuan – perempuan tua sebagai ibu dan perempuan – perempuan muda sebagai adikmu dengan penuh kemurnian (ayat 1-2).

          Orang tua yang dimaksud tidak terbatas kepada orang tua kandung, melainkan setiap orang yang lebih tua dari kita maka wajib diperlakukan sebagai bapa, jika ada juga kesalahan orang tua maafkanlah dengan kasih, bukan berarti orang tua tidak ada kesalahan dengan yang muda. Demikian pula sikap kita terhadap orang lebih muda, perempuan tua dan perempuan muda harus diperlakukan sebagai saudara. Betapa indahnya jika semua orang melakukannya, tentu tidak akan ada lagi perpecahan dan perbuatan dosa lainnya yang dapat mengakibatkan hancurnya persaudaraan. Tidak ada orang mau di hina, direndahkan apalagi sampai disakiti secara fisik. Sungguh pengajaran Tuhan untuk berdamai manusia satu sama lain telah kita baca pada nas ini, dapatkah kita melakukannya ? dan menjadi teladan bagi orang lain. Marilah kita menjadi saudara seiman yang rukun………….. Salam damai…………  Amin (KAP)

1 Yohanes 2 : 28-29



          TINGGAL DALAM KRISTUS DAN  BERBUAT KEBENARAN   
         
         
Nas ini sungguh mengusik pikiran kita karena bagaimana mungkin kita bisa tinggal dalam Kristus padahal Kristus itu tidak terlihat, tentunya kalau kita artikan secara harafiah memang tidak bisa tetapi arti dan makna  sesungguhnya bahwa Kristus harus selalu berada di hati kita sehingga tindak tanduk dan perbuatan kita bersandarkan hanya kepada Kristus Yesus. Halangan rintangan akan dapat dihalau dengan suka cita walau pahit sekalipun. Mengapa kita tinggal di dalam Kristus ? supaya apabila ia menyatakan diriNya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatanganNya (ayat 28).

Untuk lebih tegasnya nas ini juga mengajarkan kita untuk menjadi orang benar, karena Dia adalah benar, dan setiap orang yang berbuat kebenaran, lahir daripadaNya (ayat 29). Jadi tidak ada kebenaran lain selain yang bersumber dari Kristus, kalau kita mendengar atau melihat orang bersaksi kebenaran tetapi tidak bersumber dari Kristus maka sudah pasti itu bukan kebenaran. Tegas sekali dikatakan bahwa “tidak ada kebenaran yang lain” selain kebenaran Kristus.

Seringkali kita mengambil kesimpulan sendiri atas kebenaran, dan berani pula mengatakan sesuatu itu benar, apalagi yang disampaikan bukan berdasarkan iman percaya yang berasal dari Tuhan Yesus Kristus. Marilah kita renungkan kembali perbuatan kita yang banyak menyimpang bahkan cendrung mempercayai kebenaran dunia yang banyak menjanjikan sesuatu yang indah, padahal akibatnya sangat buruk bagi kita. “Akan tetapi kita tahu, bahwa anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal yang benar; dan kita ada di dalam yang benar, di dalam anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal” (1 Yohanes 5 ayat 20) amin.


Matius 21 : 28-31a



MENDENGAR PERCAYA LALU BERBUATLAH

          “Berbahagialah orang yang mendengarkan Firman Tuhan serta memeliharanya”. Kalimat ini selalu kita dengar dalam ibadah minggu di Gereja. Semua jemaat tanpa kecuali mendengar perkataan ini dari liturgis, tentunya ini berkaitan dengan makna iman percaya yaitu “mendengar” dan “menjalankan”. Bukan hanya mendengar tetapi tidak menjalankan. Demikian pula ketika Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang dua orang anak laki- laki yang disuruh oleh orang tuanya melakukan sesuatu pekerjaan di kebun anggur, apa yang terjadi. Ternyata anak yang sulung menjawab ya tetapi tidak melakukannya. Sedangkan anak yang kedua menjawab aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal dan lalu pergi juga. Siapakah diantara mereka yang melakukan kehendak bapaknya ???                 
         
          Sikap seperti si anak sulung seringkali dilakukan orang bahkan dengan lantangnya dia menjawab : “ya saya siap, Tuhan untuk melaksanakannya, tetapi apa yang terjadi dalam kenyataannya. Sikapnya tidak sesuai dengan ucapan dan tidak menjalankannya. Ada juga orang yang menjawab “tidak” tetapi karena dia menyesal dan bertobat maka ia berbalik menjalankan perintah Tuhan. Inilah yang kerab terjadi dalam kehidupan kita, percaya hanya di mulut, mengatakan ya hanya di mulut tetapi tidak menjalankannya. Padahal kita harus satu sikap antara ucapan dengan perbuatan,sehingga menunjukkan kualitas orang percaya.

Itulah sebabnya dikatakan dalam nas ini bahwa sesungguhnya pemungut – pemungut cukai dan perempuan - perempuan sundal akan mendahului kamu nasuk ke dalam kerajaan Allah. Sebab Yohannes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut – pemungut cukai dan perempuan – perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan tidak juga percaya kepadanya (ayat 31-32).

Menyesal dan mengakui kesalahan lebih berharga daripada merasa benar dalam berbuat dan tidak pernah mengakui kesalahan,Tuhan bukan menghendaki kematian orang fasik tetapi pertobatan yang diharapkan. Percayalah Tuhan memberkati. Amin (KAP)